(Sebuah renungan akhir Ramadhan: bag-1)
Indahnya bulan suci Ramadhan
ketika melihat banyak orang secara bersamaan melakukan peningkatan kualitas diri/jiwa
dengan berbagai amal kebaikan. Mulai dari menahan hawa nafsu, membiasakan diri
untuk sering berinteraksi dengan Sang Pencipta melalui ibadah qiyamul lail,
membaca Qur’an, dan juga ibadah sosial untuk saling berbagi, peduli dan
bersilaturahim.
Ada banyak manfaat yang akan
diperoleh bagi pribadi yg menjalankan puasa dengan sepenuh hati, dan diantara
manfaat besar itu adalah pembentukan karakter yang lebih baik (menuju karakter
taqwa).
Satu bulan lamanya ummat Islam
berjuang untuk mendidik hawa nafsu selama 13,5 jam/hari, tentu memberi efek
yang beragam pada setiap orang. Bagi mereka yang menghayati dan menikmati proses
‘Pelatihan Ruhiyah’ ini akan merasakan nikmatnya diri yang selalu berupaya
menjaga kesucian jiwanya dengan hanya melakukan yang positif (kebaikan) dan
mencegah masuknya hal negatif (keburukan) pada pikiran, hati, pandangan, dan
pendengaran. Dengan demikian suasana jiwanya akan selalu positif dan dekat
dengan kebahagiaan.
Tapi bagi mereka yang berpuasa fokus
pada menunggu waktu berbukanya semata dan hanya menahan lapar dan haus saja,
maka disiang hari ia bisa ‘bersabar’ dan setelah maghrib kesabaran dan hawa
nafsunya merajalela untuk berlebih-lebihan dalam melepas rasa haus dan lapar
seharian. Sikap bersabarnya seharian seharusnya berlanjut hingga malamnya
sehingga beragam kebaikan bisa dilakukan untuk pendekatan kepada Sang Pencipta.
Ada beberapa karakter penting
yang ditanamkan selama satu bulan berpuasa yaitu :
- Jujur, pengawas utama orang yang berpuasa adalah Allah SWT, ia bisa saja berpura-pura puasa dengan makan dan minum ditempat yang tersembunyi, tapi itu tidak dilakukan, ia berupaya menjadi pribadi yang jujur dalam keadaan sendiri maupun ramai, bahwa ia sedang berpuasa.
- Sabar, hebatnya orang yang berpuasa adalah ia siap menjalani kebiasaan untuk tidak makan dan minum disiang hari selama satu bulan, disaat ia di uji berbaur dengan orang yang tidak berpuasa dan makan serta minum didepannya. Ditambah lagi keharusan untuk menahan emosi agar tidak mudah marah ketika konflik terjadi.
- Komitmen, orang yg berpuasa adalah pribadi yang teguh dengan kepatuhan pada perintah Tuhannya, ia siap berupaya untuk menahan lapar dan haus dan segala prilaku yg dapat membatalkan ibadah puasanya.
- Pengorbanan, orang berpuasa sekaligus bekerja menjalankan amanah disiang harinya adalah pribadi hebat yang siap berkorban/bekerja dalam kondisi siang hari yang pasti lapar dan haus. Tidak mudah menjalani kecuali mereka yang punya keteguhan iman yang baik
- Kerja keras, jika bisa rampung mengerjakan tugas dalam keadaan tidak berpuasa itu biasa, tapi jika tetap prima menyelesaikan tugas sambil berpuasa itu sungguh luar biasa, kerja keras yang dilakukan saat berpuasa adalah keistimewaan tersendiri bagi orang yang berpuasa
- Mawas diri, ini adalah sikap berhati-hati dalam segala hal; berbicara, mendengar, dan bersikap.
- Santun, anjuran untuk menjaga lisan saat berpuasa membentuk pribadi santun pada orang yang berpuasa
- Peduli, rasa untuk berbagi dan menyayangi merupakan pembentuk karakter kepedulian yang baik bagi orang yang berpuasa, dan ini amat penting untuk kehidupan yang lebih baik.
Inilah diantara karakter unggul
yang terbentuk setelah ramdahan berlalu. Maka pribadi yang berpuasa diibaratkan
menjadi pribadi baru yang baru keluar dari ‘kepompong’ ramadhan menjadi makhluk
yang indah dengan segala kemuliaan akhlaqnya.
Jika jelang akhir Ramadhan kedelapan karakter ini belum menguat pada diri kita, maka perlu diperbaiki ibadah Ramadhannya mumpung masih ada beberapa hari lagi, wassalam.
Jika jelang akhir Ramadhan kedelapan karakter ini belum menguat pada diri kita, maka perlu diperbaiki ibadah Ramadhannya mumpung masih ada beberapa hari lagi, wassalam.







0 komentar:
Posting Komentar