Quotes

"Create Success Generation"

Senin, 21 Maret 2016

SMART PARENTING

SMART PARENTING

BE HAPPINESS AND SUCCESS WITH LOVE

PROLOG
            Seharusnya keluarga adalah kancah pembentuk manusia unggul dalam kehidupan, karena setiap keluarga sejatinya memiliki banyak impian dan harapan kebahagiaan.
Namun kegamangan sering terjadi ketika melihat perkembangan anak dan keluarga yang mengkhawatirkan, semakin tidak terkontrol dengan baik dan menambah berbagai permasalahan baru dalam keluarga.
Ada peran penting yang harus terus diingatkan dalam upaya membentuk keluarga yang unggul. Orang tua adalah aktor utama dalam membentuk keluarga yang berkwalitas. Dan ini bisa berjalan dengan baik jika orang tua memiliki ilmu yang cukup dan kemauan yang kuat untuk melakukan perbaikan.
Kajian parenting umumnya adalah berbicara tentang manajerial efektif orang tua dalam memenej rumah tangga. Banyak sumber dan berbagai dimensi pengetahuan bisa kita lakukan untuk menambah wawasan tentang manajemen keluarga yang produktif, bisa dari tinjauan ilmiah, amaliah, juga manajerial motivatif yang berdimensi mental spiritual.
Pada kajian kali ini Smart Parenting lebih diarahkan pada sisi mentalitas, bagaimana seorang pemimpin keluarga memiliki kemauan dan keyakinan kuat untuk memperbaiki keadaan dengan memulai dari pembentukan karakater diri dan keluarga.
Buah akan jatuh tidak jauh dari pohonnya, sebuah pepatah yang mengajarkan kita bahwa anak akan berprilaku/bersikap tidak jauh beda seperti orang tuanya, karena ada pembelajaran langsung atau pun tidak langsung yang terjadi selama proses perjalanan keluarga.


IMPIAN KELUARGA
Alangkah indahnya kehangatan silaturahmi dan keramaian kala resepsi pernikahan berlangsung. Pengantin tersenyum bahagia, orang tua, keluarga, dan rekan turut mendoakan agar pernikahan tersebut membawa kebahagiaan.
Segala perjuangan dan susah payah dalam menjalin ikatan pernikahan tentu dengan dambaan besar sebuah kehidupan yang lebih baik hingga berpulang kepadaNYa.
Satu hal yang lumrah jika semua keluarga merindukan kebahagiaan yang berkesinambungan, membayangkan sampai nanti dihari tua semuanya baik-baik saja. Anak-anak sukses, ekonomi keluarga membaik, semakin harmonis dengan suami/istri, cucu dan cicit berkelakuan baik, dan semuanya dekat dengan Tuhan.
Walaupun realita ‘belakangan itu semua tidak tercapai, tetap saja diawal pernikahan bayangan indah itu terpikirkan. Ya seyogyanya komitmen menikah adalah kehidupan baru kita yang akan mempermudah hidup untuk meraih segala impian kesuksesan dan kebahagiaan.
Impian membentuk keluarga bahagia memang harus ditanamkan dihati sang anak kala akan menikah, sehingga ia punya visi dan target yang kuat dalam menjalankan rumah tangganya.
Impian bahagia ini juga amat baik dimunculkan diusia matang pernikahan yang kita jalin, karena ia akan memberi harapan terjadinya perubahan kepada kondisi yang lebih baik.


PERMASALAHAN KELUARGA KELUARGA BERMASALAH
Apa perbedaan dari dua kalimat diatas? Apakah sama? Tentu tidak. Permasalahan didalam rumah tangga adalah hal yang lumrah untuk terjadi. Bisa muncul dari berbagai dinamika dan perubahan yang terjadi dalam keluarga tersebut. Permasalahan dalam sebuah rumah tangga tidak berarti menjadikan keluarga tersebut menjadi keluarga bermasalah.
Kearifan dalam menghadapi problematika rumah tangga tidak jarang menjadikan keluarga tersebut lebih dewasa dan bijaksana dalam perjalanannya. Bagi keluarga yang unggul permasalahan yang muncul dalam sebuah rumah tangga menjadi sarana ‘peningkatan kelas/derajat’ kekuatan mental anggota keluarganya yang kelak akan memiliki keluarga secara mandiri.
Lantas bagaimana dengan keluarga bermasalah? Secara umum ini bermakna negatif yang ditujukan buat keluarga yang jauh dari keteraturan. Keluarga bermasalah adalah keluarga yang bertubi-tubi menghadapi permasalahan hidup bahkan satu permasalahan beranak pinak menjadi masalah berikutnya, atau yang terparah adalah sesuatu yang sebenarnya tidak bermasalah tapi menjadi perkara besar dan dipermasalahkan (karena suka dibesar-besarkan).
Bagi keluarga model ini, sebuah permasalahan keluarga yang muncul akan menambah kekacauan yang beruntun dan membuahkan masalah berikutnya. Masalah yang satu belum selesai dituntaskan sudah muncul lagi beban masalah berikutnya dan begitu terus-menerus, hingga sangat pantas disebut keluarga bermasalah; orang tuanya bermasalah, anaknya bermasalah, bermasalah dengan tetangga, bermasalah dengan keluarga, bermasalah dengan pekerjaan, bermasalah dengan pihak sekolah/kampus, bermasalah dengan istri/suami/mertua/menantu, dan bermasalah besar dengan Tuhan (gawat!).
Keluarga Unggul adalah kebalikan dari kondisi Keluarga Bermasalah. Kedua model keluarga ini sama-sama mengalami/menjumpai problem berkeluarga secara umum, namun hasil penyelesaian akhir dari keduanya sangat jauh berbeda, mengapa? Inilah beberapa alasan yang bisa diketahui
Keluarga Unggul menghadapi masalah dengan semangat mencari solusi dan kebersamaan, sementara Keluarga Bermasalah dengan semangat mencari ‘kambing hitam’ serta menyelamatkan diri masing-masing.
Keluarga Unggul menjadikan permasalahan sebesar apapun jadi sederhana dan optimis untuk diselesaikan, sementara Keluarga Bermasalah menghadapi permasalahan kecil dengan sikap emosional dan sangat dibesar-besarkan dan dipersulit/mempersulit diri sendiri (apalagi menghadapi masalah besar? Hmmm).
Keluarga Unggul tidak ingin ada anggota keluarganya yang dirugikan atau ‘terkalahkan’ dalam permasalahan tersebut, sementara Keluarga Bermasalah sanggup untuk menghancurkan anggota keluarganya sendiri (sadis...!).
Untuk sekedar sebuah evaluasi. BAGAIMANA KONDISI KELUARGA KITA HARI INI? TERGOLONG KELUARGA UNGGUL ATAUKAH KELUARGA BERMASALAH?


IMPIAN VS PERMASALAHAN
Permasalahan adalah sesuatu yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Terasa menjadi sebuah masalah dalam keluarga disaat harapan bahagia terasa sirna dengan kemurungan dan kesengsaraan yang bertubi-tubi.
Ada banyak hal yang kita kecewakan dalam kondisi keluarga yang dijalani diantaranya :
1.        Hubungan kekerabatan yang buruk
2.       Komunikasi yang buruk
3.       Orientasi hidup keluarga yang membahayakan
4.       Mental keluarga yang buruk (orang tua/anak/istri/suami)
5.       Manajemen Diri yang lemah (emosional, pesimis, dll)
6.       Malas Ibadah, suka berbuat dosa/maksiat
7.       Kuatnya aroma kebencian, permusuhan
8.       dan lain-lain

Tujuh poin diatasnya hanyalah sebagian kecil dari kekecewaan yang bisa muncul dari kondisi keluarga yang tidak kita harapkan. Pembiaran terhadap kondisi buruk tersebut akan berefek panjang dari perjalanan sebuah rumah tangga.

Ada beberapa sikap yang muncul dalam menghadapi permasalahan tersebut :
1.        Putus asa, banyak mengeluh, merasa sulit untuk berubah
2.       Tidak mau tahu
3.       Setengah hati
4.       Sepenuh hati dan optimis memperbaikinya


"Sikap terbaik adalah sepenuh hati untuk menuntaskan masalah dengan optimisme yang tinggi bahwa perubahan kearah yang lebih baik sangat mungkin untuk terjadi"


MENGAPA BISA TERJADI?
Ya, mengapa itu semua bisa terjadi, tentu sangat banyak faktor yang melatarbelakanginya, namun paling tidak ada beberapa sebab secara umum, yaitu :
1.        Pemahaman manajemen diri/manajemen keluarga yang sangat rendah
2.       Visi keluarga yang lemah
3.       Komunikasi yang tidak terjalin dengan baik
4.       Kwalitas keimanan yang tidak terawat


SOLUSI PERUBAHAN : ”3 REVOLUSI”
Untuk menuju keluarga yang unggul dan berkwalitas harus berani melakukan aksi perubahan secara totalitas (tanpa menafikan proses perubahan). Kita pilih totalitas/sepenuh hati agar memperoleh hasil yang maksimal dan upaya yang maksimal.
Revolusi adalah perubahan cepat pada suatu keadaan. Keluarga yang unggul tentunya dimulai dari keberadaan pemimpin keluarga/orang tua yang unggul. Orang tua yang cerdas, tentunya tidak hanya cerdas intelektual, namun juga cerdas emosional dan spiritual.
3 Revolusi penting bagi orang tua untuk menjadikan keluarga berkwalitas :
1. Revolusi Mental
2. Revolusi Intelektual
3. Revolusi Komunikasi

  
1. Revolusi Mental
Ya, orang tua harus mencontohkan pertama kali pada keluarga semangat perubahan menjadi lebih baik. Harus ada keingin yang kuat secara sadar untuk membenahi segala ketertinggalan dan memperbaiki keadaan.
Beberapa hal penting bagi orang tua dalam melakukan revolusi mental :
-         Mulai dari diri sendiri, tidak bisa ditawar-tawar lagi bahwa kesungguhan orang tua untuk berubah merupakan jutaan nasehat non verbal kepada keluarga. Timbulkan keinginan yang kuat dan tekad yang membaja untuk memperbaiki keluarga jadi lebih baik
-         Reset Mindset, susun ulang cara berpikir tentang keadaan keluarga. Harus belajar untuk melihat kelebihan keluarga yang bisa dikembangkan dari pada hanya fokus pada kekurangan yang mereka miliki, ini jauh lebih menghargai dan memotivasi bagi mereka untuk segera berubah.
-         Optimis, untuk keluar dari kebiasaan buruk pada yang lebih diakui banyak tantangan dan cobaan. Tidak jarang ini bisa membuat suasana demotivasi yang merugikan. Maka pemimpin keluarga harus sangat optimis bahwa target perubahan akan bisa diraih, karena kesadaran bahwa fitrahnya manusia ingin menjadi orang yang baik, ini merupakan angin segar perubahan yang harus direspon dengan semangat keyakinan yang tinggi.
-         Melibatkan Tuhan. Manusia memiliki keterbatasan, sedangkan Tuhan kekuasaannya tidak terbatas, maka amat penting kedekatan orang tua pada Sang Pencipta untuk merubahan keadaan yang terburuk sekalipun. Keyakinan pada Tuhan adalah wujud kecerdasan spiritual sang pemimpin keluarga yang akan membuat dirinya semakin optimis bahwa sesulit apapun masalah akan terselesaikan dengan baik bersama pertolongan Tuhan.

2. Revolusi Intelektual
Maju mundurnya sebuah negara terukur dari sejauh mana masyarakatnya mencintai ilmu, dalam wujud kecintaan mereka dengan membaca atau forum-forum penambah pengetahuan lainnya. Demikian pula dengan keluarga, ia akan berkwalitas jika didalamnya dibudayakan semangat untuk menambah pengetahuan yang bermanfaat.
Khusus bagi orang tua harus mulai mencontohkan dan memulai semangat revolusi intelektual ini, khususnya tentang pembelajaran manajemen diri dengan melakukan beberapa hal berikut :

-         Tingkatkan motivasi belajar, kecerdasan manajemen diri anak dimulai dari kecerdasan orang tua sebagai guru pertamanya dalam kehidupan. Problem yang besar sekalipun akan terasa mudah diatasi jika telah memilki ilmunya, sebaliknya problem kecil akan terasa berat jika kita tidak faham cara menyelesaikannya. Instrumen yang bisa disiapkan adalah ; menyiapkan perpustakaan mini tentang manajamen diri/keluarga, buat forum kajian internal keluarga, dll
-         Maksimalkan potensi diri, semakin baik seseorang memberdayakan potensi dirinya akan semakin mudah melakukan perubahan kearah yang lebih baik. Diantara potensi diri yang bisa kita maksimalkan adalah kemampuan komunikasi yang baik, leadership, problem solving, manajemen keuangan keluarga, dll. Dan lagi-lagi orang tua harus ikhlas untuk memulai dari dirinya sendiri. Perintah terbaik adalah dengan mencontohkan dan bukan hanya memberi instruksi.
-         Tetapkan Visi, termasuk pengetahuan yang terbaik untuk dimiliki adalah kemampuan untuk menatap masa depan dengan baik melalui target capaian yang akan diraih oleh keluarga, dan itu adalah visi, mimpi kedepan dari bangunan keluarga yang akan dikemas menuju kesuksesan dan kebahagiaan. Visi ini baik untuk disampaikan pada seluruh keluarga sebagai sebuah target bersama untuk diraih. Juga amat baik jika visi ini disampaikan kepada Tuhan dalam wujud do’a dan harapan.

3. Revolusi Komunikasi
Komunikasi adalah aktivitas yang paling sering kita lakukan dalam keseharian. Komunikasi bertujuan memudahkan seseorang untuk menerima informasi dari penyampai pesan yang akhirnya akan merespon pesan yang ditangkap.
Komunikasi yang baik akan membuahkan pengaruh yang baik, sementara komunikasi yang buruk akan merusak keadaan, mematikan kesempatan dan potensi diri.
Mutlak diperlukan perubahan total kita dalam berkomunikasi, karena bukan tidak mungkin bahwa kerusakan harmonisasi keluarga kita selama ini adalah akabiat ketidakmampuan melakukan komunikasi yang baik/efektif.
3 hal penting untuk melakukan revolusi komunikasi, yaitu :
-         Mendengar dengan hati, ada beberapa unsur penting didalam komunikasi; lisan, pendengaran, penglihatan, dan hati. Mendengar adalah satu hal penting yang harus dipelajari. Rubahlah kebiasaan mendengar dengan antipati, buruksangka, kesombongan, dan emosional. Beralihkan kepada ’mendengarkan dengan hati’ yaitu upaya mendengar dengan nilai kesabaran, baik sangka, berpikir jernih, dan solution oriented.
-         Berbicara dengan hati, berbicara adalah aktivitas ringan namun memiliki efek yang besar bahhkan terkadang berat, lenturnya lidah dapt menghancurkan rumah tangga yang utuh, maka perlu diubah pola bicara selama ini yang mungkin lebih melibatkan emosi, hawa nafsu atau kebencian dengan komunikasi yang melibatkan kejernihan hati, mempertimbangkan setiap kata yang akan diucapkan. Bicara yang membangkitkan kesempatan dan perubahan yang lebih baik
-         Membangun komunikasi cinta, dalam komunikasi perlu ada cinta, dalam cinta harus dibangun komunikasi yang baik. Bagaimanapun keadaan komunikasi yang akan dibangun jika dilandasi dengan cinta akan berbuah kebaikan; marah dengan cinta, nasehat dengan cinta, diam dengan cinta, setuju dengan cinta, tidak setuju dengan cinta, dan berbeda pendapat dengan cinta.


SEMOGA BERMANFAAT...


>

0 komentar:

Posting Komentar