SMART
PARENTING
PROLOG
Seharusnya keluarga adalah kancah
pembentuk manusia unggul dalam kehidupan, karena setiap keluarga
sejatinya memiliki banyak impian dan harapan kebahagiaan.
Namun kegamangan sering
terjadi ketika melihat perkembangan anak dan keluarga yang mengkhawatirkan,
semakin tidak terkontrol dengan baik dan menambah berbagai permasalahan baru dalam keluarga.
Kajian parenting umumnya
adalah berbicara tentang manajerial efektif orang tua dalam memenej rumah
tangga. Banyak sumber dan berbagai dimensi pengetahuan bisa kita lakukan untuk
menambah wawasan tentang manajemen keluarga yang produktif, bisa dari tinjauan
ilmiah, amaliah, juga manajerial motivatif yang berdimensi mental spiritual.
Pada kajian kali ini Smart
Parenting lebih diarahkan pada sisi mentalitas, bagaimana seorang pemimpin
keluarga memiliki kemauan dan keyakinan kuat untuk memperbaiki keadaan dengan
memulai dari pembentukan karakater diri dan keluarga.
Buah akan jatuh tidak jauh
dari pohonnya, sebuah pepatah yang mengajarkan kita bahwa anak akan
berprilaku/bersikap tidak jauh beda seperti orang tuanya, karena ada
pembelajaran langsung atau pun tidak langsung yang terjadi selama proses perjalanan
keluarga.
IMPIAN KELUARGA
Alangkah indahnya kehangatan silaturahmi dan keramaian kala resepsi
pernikahan berlangsung. Pengantin tersenyum bahagia, orang tua, keluarga, dan
rekan turut mendoakan agar pernikahan tersebut membawa kebahagiaan.
Segala perjuangan dan susah payah dalam menjalin ikatan pernikahan tentu
dengan dambaan besar sebuah kehidupan yang lebih baik hingga berpulang
kepadaNYa.
Satu hal yang lumrah jika semua keluarga merindukan kebahagiaan yang
berkesinambungan, membayangkan sampai nanti dihari tua semuanya baik-baik saja.
Anak-anak sukses, ekonomi keluarga membaik, semakin harmonis dengan
suami/istri, cucu dan cicit berkelakuan baik, dan semuanya dekat dengan Tuhan.
Walaupun realita ‘belakangan itu
semua tidak tercapai, tetap saja diawal pernikahan bayangan indah itu
terpikirkan. Ya seyogyanya komitmen menikah adalah kehidupan baru kita yang
akan mempermudah hidup untuk meraih segala impian kesuksesan dan kebahagiaan.
Impian membentuk keluarga bahagia memang harus ditanamkan dihati sang
anak kala akan menikah, sehingga ia punya visi dan target yang kuat dalam
menjalankan rumah tangganya.
Impian bahagia ini juga amat baik dimunculkan diusia matang pernikahan
yang kita jalin, karena ia akan memberi harapan terjadinya perubahan kepada kondisi
yang lebih baik.
PERMASALAHAN KELUARGA ≠ KELUARGA BERMASALAH
Apa
perbedaan dari dua kalimat diatas? Apakah sama? Tentu
tidak. Permasalahan didalam rumah tangga adalah hal yang lumrah untuk terjadi.
Bisa muncul dari berbagai dinamika dan perubahan yang terjadi dalam keluarga
tersebut. Permasalahan dalam sebuah rumah tangga tidak berarti menjadikan
keluarga tersebut menjadi keluarga bermasalah.
Kearifan dalam menghadapi problematika rumah tangga tidak jarang
menjadikan keluarga tersebut lebih dewasa dan bijaksana dalam perjalanannya.
Bagi keluarga yang unggul permasalahan yang muncul dalam sebuah rumah tangga
menjadi sarana ‘peningkatan kelas/derajat’ kekuatan mental anggota keluarganya
yang kelak akan memiliki keluarga secara mandiri.
Lantas bagaimana dengan keluarga bermasalah? Secara umum ini bermakna
negatif yang ditujukan buat keluarga yang jauh dari keteraturan. Keluarga
bermasalah adalah keluarga yang bertubi-tubi menghadapi permasalahan hidup
bahkan satu permasalahan beranak pinak menjadi masalah berikutnya, atau yang
terparah adalah sesuatu yang sebenarnya tidak bermasalah tapi menjadi perkara
besar dan dipermasalahkan (karena suka dibesar-besarkan).
Bagi keluarga model ini, sebuah permasalahan keluarga yang muncul akan
menambah kekacauan yang beruntun dan membuahkan masalah berikutnya.
Masalah yang satu belum selesai dituntaskan sudah muncul lagi beban masalah
berikutnya dan begitu terus-menerus, hingga sangat pantas disebut keluarga bermasalah; orang tuanya bermasalah, anaknya
bermasalah, bermasalah dengan tetangga, bermasalah dengan keluarga, bermasalah
dengan pekerjaan, bermasalah dengan pihak sekolah/kampus, bermasalah dengan
istri/suami/mertua/menantu, dan bermasalah besar dengan Tuhan (gawat!).
Keluarga Unggul adalah kebalikan dari kondisi Keluarga Bermasalah. Kedua
model keluarga ini sama-sama mengalami/menjumpai problem berkeluarga secara
umum, namun hasil penyelesaian akhir dari keduanya sangat jauh berbeda,
mengapa? Inilah beberapa alasan yang bisa diketahui
Keluarga Unggul menghadapi masalah dengan semangat mencari solusi dan
kebersamaan, sementara Keluarga Bermasalah dengan semangat mencari ‘kambing
hitam’ serta menyelamatkan diri masing-masing.
Keluarga Unggul menjadikan permasalahan sebesar apapun jadi sederhana
dan optimis untuk diselesaikan, sementara Keluarga Bermasalah menghadapi
permasalahan kecil dengan sikap emosional dan sangat dibesar-besarkan dan
dipersulit/mempersulit diri sendiri (apalagi menghadapi masalah besar? Hmmm).
Keluarga Unggul tidak ingin ada anggota keluarganya yang dirugikan atau
‘terkalahkan’ dalam permasalahan tersebut, sementara Keluarga Bermasalah
sanggup untuk menghancurkan anggota keluarganya sendiri (sadis...!).
Untuk sekedar sebuah evaluasi. BAGAIMANA
KONDISI KELUARGA KITA HARI INI? TERGOLONG
KELUARGA UNGGUL ATAUKAH KELUARGA BERMASALAH?
IMPIAN VS PERMASALAHAN
Permasalahan adalah sesuatu yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang
diharapkan. Terasa menjadi sebuah masalah dalam keluarga disaat harapan bahagia
terasa sirna dengan kemurungan dan kesengsaraan yang bertubi-tubi.
Ada banyak hal yang kita kecewakan dalam kondisi keluarga yang dijalani
diantaranya :
1.
Hubungan kekerabatan yang buruk
2.
Komunikasi yang buruk
3.
Orientasi hidup keluarga yang membahayakan
4.
Mental keluarga yang buruk (orang
tua/anak/istri/suami)
5.
Manajemen Diri yang lemah (emosional, pesimis, dll)
6.
Malas Ibadah, suka berbuat dosa/maksiat
7.
Kuatnya aroma kebencian, permusuhan
8.
dan lain-lain
Tujuh poin diatasnya hanyalah sebagian kecil dari kekecewaan yang bisa
muncul dari kondisi keluarga yang tidak kita harapkan. Pembiaran terhadap
kondisi buruk tersebut akan berefek panjang dari perjalanan sebuah rumah tangga.
Ada beberapa sikap yang muncul dalam menghadapi permasalahan tersebut :
1.
Putus asa, banyak mengeluh, merasa sulit untuk berubah
2.
Tidak mau tahu
3.
Setengah hati
4.
Sepenuh hati dan optimis memperbaikinya
"Sikap terbaik adalah sepenuh hati untuk menuntaskan
masalah dengan optimisme yang tinggi bahwa perubahan kearah yang lebih
baik sangat mungkin untuk terjadi"
MENGAPA BISA TERJADI?
Ya, mengapa itu semua bisa terjadi, tentu sangat banyak faktor yang
melatarbelakanginya, namun paling tidak ada beberapa sebab secara umum, yaitu :
1.
Pemahaman manajemen diri/manajemen keluarga yang
sangat rendah
2.
Visi keluarga yang lemah
3.
Komunikasi yang tidak terjalin dengan baik
4.
Kwalitas keimanan yang tidak terawat
SOLUSI PERUBAHAN : ”3 REVOLUSI”
Untuk
menuju keluarga yang unggul dan berkwalitas harus berani melakukan aksi
perubahan secara totalitas (tanpa menafikan proses perubahan). Kita pilih
totalitas/sepenuh hati agar memperoleh hasil yang maksimal dan upaya yang
maksimal.
Revolusi
adalah perubahan cepat pada suatu keadaan. Keluarga yang unggul tentunya
dimulai dari keberadaan pemimpin keluarga/orang tua yang unggul. Orang tua yang
cerdas, tentunya tidak hanya cerdas intelektual, namun juga cerdas emosional
dan spiritual.
3
Revolusi penting bagi orang tua untuk menjadikan keluarga berkwalitas :
1.
Revolusi Mental
2.
Revolusi Intelektual
3.
Revolusi Komunikasi
1. Revolusi Mental
Ya,
orang tua harus mencontohkan pertama kali pada keluarga semangat perubahan
menjadi lebih baik. Harus ada keingin yang kuat secara sadar untuk membenahi
segala ketertinggalan dan memperbaiki keadaan.
Beberapa
hal penting bagi orang tua dalam melakukan revolusi mental :
-
Mulai dari diri sendiri, tidak
bisa ditawar-tawar lagi bahwa kesungguhan orang tua untuk berubah merupakan
jutaan nasehat non verbal kepada keluarga. Timbulkan keinginan yang kuat dan
tekad yang membaja untuk memperbaiki keluarga jadi lebih baik
-
Reset Mindset, susun ulang cara berpikir
tentang keadaan keluarga. Harus belajar untuk melihat kelebihan keluarga yang
bisa dikembangkan dari pada hanya fokus pada kekurangan yang mereka miliki, ini
jauh lebih menghargai dan memotivasi bagi mereka untuk segera berubah.
-
Optimis, untuk keluar dari kebiasaan buruk pada yang lebih
diakui banyak tantangan dan cobaan. Tidak jarang ini bisa membuat suasana
demotivasi yang merugikan. Maka pemimpin keluarga harus sangat optimis bahwa
target perubahan akan bisa diraih, karena kesadaran bahwa fitrahnya manusia
ingin menjadi orang yang baik, ini merupakan angin segar perubahan yang harus
direspon dengan semangat keyakinan yang tinggi.
-
Melibatkan Tuhan.
Manusia memiliki keterbatasan, sedangkan Tuhan kekuasaannya tidak terbatas,
maka amat penting kedekatan orang tua pada Sang Pencipta untuk merubahan
keadaan yang terburuk sekalipun. Keyakinan pada Tuhan adalah wujud kecerdasan
spiritual sang pemimpin keluarga yang akan membuat dirinya semakin optimis
bahwa sesulit apapun masalah akan terselesaikan dengan baik bersama pertolongan
Tuhan.
2. Revolusi Intelektual
Maju
mundurnya sebuah negara terukur dari sejauh mana masyarakatnya mencintai ilmu,
dalam wujud kecintaan mereka dengan membaca atau forum-forum penambah
pengetahuan lainnya. Demikian pula dengan keluarga, ia akan berkwalitas jika
didalamnya dibudayakan semangat untuk menambah pengetahuan yang bermanfaat.
Khusus
bagi orang tua harus mulai mencontohkan dan memulai semangat revolusi
intelektual ini, khususnya tentang pembelajaran manajemen diri dengan melakukan
beberapa hal berikut :
-
Tingkatkan motivasi belajar,
kecerdasan manajemen diri anak dimulai dari kecerdasan orang tua sebagai guru
pertamanya dalam kehidupan. Problem yang besar sekalipun akan terasa mudah
diatasi jika telah memilki ilmunya, sebaliknya problem kecil akan terasa berat
jika kita tidak faham cara menyelesaikannya. Instrumen yang bisa disiapkan
adalah ; menyiapkan perpustakaan mini tentang manajamen diri/keluarga, buat
forum kajian internal keluarga, dll
-
Maksimalkan potensi diri,
semakin baik seseorang memberdayakan potensi dirinya akan semakin mudah
melakukan perubahan kearah yang lebih baik. Diantara potensi diri yang bisa
kita maksimalkan adalah kemampuan komunikasi yang baik, leadership, problem
solving, manajemen keuangan keluarga, dll. Dan lagi-lagi orang tua harus ikhlas
untuk memulai dari dirinya sendiri. Perintah terbaik adalah
dengan mencontohkan dan bukan hanya memberi instruksi.
-
Tetapkan Visi, termasuk pengetahuan yang
terbaik untuk dimiliki adalah kemampuan untuk menatap masa depan dengan baik
melalui target capaian yang akan diraih oleh keluarga, dan itu adalah visi,
mimpi kedepan dari bangunan keluarga yang akan dikemas menuju kesuksesan dan
kebahagiaan. Visi ini baik untuk disampaikan pada seluruh keluarga sebagai
sebuah target bersama untuk diraih. Juga amat baik jika visi ini disampaikan
kepada Tuhan dalam wujud do’a dan harapan.
3. Revolusi Komunikasi
Komunikasi
adalah aktivitas yang paling sering kita lakukan dalam keseharian. Komunikasi
bertujuan memudahkan seseorang untuk menerima informasi dari penyampai pesan
yang akhirnya akan merespon pesan yang ditangkap.
Komunikasi
yang baik akan membuahkan pengaruh yang baik, sementara komunikasi yang buruk
akan merusak keadaan, mematikan kesempatan dan potensi diri.
Mutlak
diperlukan perubahan total kita dalam berkomunikasi, karena bukan tidak mungkin
bahwa kerusakan harmonisasi keluarga kita selama ini adalah akabiat
ketidakmampuan melakukan komunikasi yang baik/efektif.
3 hal
penting untuk melakukan revolusi komunikasi, yaitu :
-
Mendengar dengan hati, ada
beberapa unsur penting didalam komunikasi; lisan, pendengaran, penglihatan, dan
hati. Mendengar adalah satu hal penting yang harus dipelajari. Rubahlah
kebiasaan mendengar dengan antipati, buruksangka, kesombongan, dan emosional.
Beralihkan kepada ’mendengarkan dengan hati’ yaitu upaya mendengar dengan nilai
kesabaran, baik sangka, berpikir jernih, dan solution oriented.
-
Berbicara dengan hati,
berbicara adalah aktivitas ringan namun memiliki efek yang besar bahhkan
terkadang berat, lenturnya lidah dapt menghancurkan rumah tangga yang utuh,
maka perlu diubah pola bicara selama ini yang mungkin lebih melibatkan emosi,
hawa nafsu atau kebencian dengan komunikasi yang melibatkan kejernihan hati,
mempertimbangkan setiap kata yang akan diucapkan. Bicara yang membangkitkan
kesempatan dan perubahan yang lebih baik
-
Membangun komunikasi cinta, dalam
komunikasi perlu ada cinta, dalam cinta harus dibangun komunikasi yang baik. Bagaimanapun
keadaan komunikasi yang akan dibangun jika dilandasi dengan cinta akan berbuah kebaikan;
marah dengan cinta, nasehat dengan cinta, diam dengan cinta, setuju dengan
cinta, tidak setuju dengan cinta, dan berbeda pendapat dengan cinta.
SEMOGA
BERMANFAAT...








0 komentar:
Posting Komentar